Rabu, 27 Maret 2019

model-model supervisi pendidikan


MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN
Model berasal dari Bahasa Inggris Modle, yang bermakna bentuk atau kerangka sebuah konsep, atau pola. Harjanto (2006) mengartikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu kegiatan.
Sahertian (2000) membagi model supervisi menjadi tiga bentuk:
a.       model konvensional (tradisional).
b.      model ilmiah.
c.       model klinis dan.
d.      model artistik.

1.      Model konvensional (tradisional)

Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat memata-matai. Perilaku seperti ini disebut snoopervision (memata-matai). Sering disebut supervisi yang korektif.
Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya untuk mencari kesalahan adalah suatu permulaan yang tidak berhasil. Mencari-cari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya guru-guru merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru: 1) Acuh tak acuh (masa bodoh), dan (2) Menantang (agresif).
Seorang supervisor seharusnya tidak banyak menyalahkan yang disupervisi sebaiknya supervisor menggunakan komunikasi yang baik  apa yang dimaksudkan sehingga para guru menyadari bahwa dia harus memperbaiki kesalahannya. Para guru akan dengan senang hati melihat dan menerima bahwa ada yang harus diperbaiki. Caranya harus secara taktis pedagogis atau dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaan bukan bahasa penolakan. dengan begitu guru dapat menerima kritikan dari seorang supervisor tersebut dengan hati yang lapang tidak merasa dongkol ataupun jengkel ketika disalah-salahkan oleh supervisor.

2.      Model Supervisi Ilmiah.
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Dilaksanakan secara berencana dan kontinu;.
b.      Sistematis dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu.
c.       Menggunakan instrumen pengumpulan data.
d.      Ada data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan merit rating, skala penilaian atau checklist lalu para siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan belajar-mengajar guru/dosen di kelas. Kemudian dengan pemberian ratting dari siswa maka seorang guru dapat memperbaiki atau mengkoreksi hasil penilaian dari siswa-siswanya. Maka hal tersebut ataupun dengan cara tersebut membantu guru memperbaiki masalah yang dihadapinya.
3.      Model Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bentujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. Supervisi klinis adalah proses membantu guru-guru memperkecil kesenjangan antara tingkah laku rnengajar yang nyata dengan tingkah laku mengajar yang ideal.
Menurut bebrapa ahli seperti Goldhammer, Anderson & krajewski, 1980 dan Garman, 1982 ( dalam Sergiovanni, 1991) Supervise klinis merupakan strategi yang efektif dalam memperbaiki pengajaran. Supervise klinis termasuk aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam kelas. Ia berkenaan dengan perbaikan mengajar dan belajar melalui observasi langsung terhadap tindakan guru dan siswa dalam lingkungan belajar. Supervisi klinis menekankan pada tiga hal :
a.       Hubungan dan interaksi tatapo muka antara supervisor dengan guru.
b.      Peningkatan hubungan professional yang akrab antara supervisor dengan guru.
c.       Observasi yang cermat untuk memperoleh data yang akurat.
4.      Model Supervisi Artistik
Sejalan dengan tugas mengajar supervisi juga sebagai kegiatan mendidik dapat dikatakan bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu kiat.


SUMBER
Muslim, Banun Sri. 2013. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. IKAPI: ALFABETA CV.

Rabu, 20 Maret 2019

LATAR BELAKANG DAN PERKMBANGAN SUPERVISI PENDIDIKAN

A.    LATAR BELAKANG SUPERVISI PENDIDIKAN
Latar belakang supervise pendidikan dibagi menjadi 4 yaitu secara kultural, filosofis, psikologis, dan social.
Dikutip dalam buku
Menurut swearingen supervise pendidikan dilaksanakan dilihat dari latar belakang sebagai berikut:
a.       Latar belakang secara kultural:
di zaman yang semakin maju manusia berkembang mengikuti zaman, hal ini menyebabkan perubahan dan pencampuran kebudayaan. Sekolah sebagai salah satu pusat kebudayaan, bertugas dan bertanggung jawab untuk menyeleksi antara yang negative dan yang positif. Budaya yang bermacam-macam dapat mempengaruhi lapangan gerak pendidikan dan pengajara. Sekolah bertugas mengkoordinir  semua usaha dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Oleh karena itu dibutuhkan supervise pendidikan yang bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha sekolah, dan memperkembangkan segala usaha untuk mencapai tujuan pendidikan.
b.      Latar belakang secara filosofis:
tiap zaman alam pikiran manusia mengalami peningkatan secara bertahap. Kecakapan untuk berfikir, merencanakan dan utuk berbuat merupakan usaha-usaha nyata dalam mengisi kebutuhan manusia. Manusia mempunyai potensi-potensi yang menghasilkan sesuatu pada setiap situasi, sehingga dengan demikian setiap pengalaman itu bersifat potensi  kreatif, mau tidak mau dibutuhkan daya koordinasi dan penyusunan rencana-rencana untuk mengatur interaksi manusia. Hal ini menjadi dasar filosofi bahwa dalam pendidikan perlu adanya supervise yang mengatur dan mengkoordinir pendidikan dan pengajaran.
c.       Latar belakang secara psikologis:
salah satu pandangan psikologi modern didalam pendidikan adalah pentingnya dorongan-dorongan emosional bagi anak waktu belajar seperti memberi motifasi. Hal ini juga dibutuhkan oleh orang dewasa. Usaha untuk mengembangkan dorongan-dorongan emosional bagi orang dewasa yang sedang belajar adalah salah satu fungsi supervise.
d.      Latar belakang secara social:
supervisi bersumber pada dassar kehidupan social, dimana masyarakat  demokratis, pemimpin juga demokratis. Seorang supervisor  biasanya adalah seorang yang memiliki status leader karena kedudukannya dan oleh karena itu ia memiliki tanggung jawab untuk merealisasikan potensi-potensi dalam memecahkan  setiap masalah ataupun problematika dengan cara mengikut sertakan pendapat orang lain.
e.       Latar bekalang secara sosiologis:
perkembangan seseorang tidak saja berdasarkan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi bergantung juga kepada perlengkapan fisik yaitu perkembangan melalui kondisi-kondisi social. Oleh karena itu dalam proses kehidupan, maka sekolah dan masyarakat bersama-sama menaruh perhatian khusus terhadap perkembangan intelek, emosi, dan sebagainya dari anak-anak. Perlunya menyelidiki kondisi-kondisi masyarakat yang mempengaruhi, langsung atau tidak langsung perkembangan anak sehingga guru dapat membantu sekolah dan membina usah-usaha didiknya adalah salah satu fungsi kreatif dari supervise pendidikan.

B.     PERKEMBANGAN SUPERVISE PENDIDIKAN
Dikutip dari buku supervise pendidikan sudiyono halaman (13-22):
Pada abad ke 19 telah terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam bidang ilmu pengetahuan dan industry. Pola-pola pengawasan dalam bidang produksi telah merembes bahkan diadopsi atau diadaptasi dalam bidang pendidikan. Pola pengawasan yang dilakukan dalam sector dunia industry lebih terfokus pada hasil atau produk. Sementara, sector pendidikan mestinya memiliki kekhususan. Pendidikan merupakan dunia yang berbeda dengan dunia usaha. Dalam dunia pendidikan yang diproses adalah manusia. Produk pendidikan juga berupa manusia.
Oleh karena itu  pengawasan berkembang didunia usaha, maka pengawasan yang dilakukan oleh atasan atau pengawas terhadap karyawan atau bawahan bersifat administrative. Demikian juga dalam bidang pendidikan, pengawasan juga dilakukan oleh supervisor terhadap guru lebih bersifat teknis administrative.
Imlikasinya adalah di didalam melakukan supervisi cenderung mencari-cari kesalahan. Tenaga pengawas yang melaksanakan tugas kepengawasan belum dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang memang ditugasi untuk tugas kepengawasan secara professional. Akibatnya, pelaksanaan tugas supervisi hanyalah pekerjaan sampingan. Dalam masa inin, pengawas menganggap dirinya selalu lebih unggul dari pada para guru-guru.
Kondisi ini buka sepenuhnya kesalahan pengawas, tetapu disebabkan cara berfikir tersebut saat itu menjadi cara berfikir yang digandrungi atau di jadikan acuan kebanyakan individu, bahkan disebut juga dengan “reifikasi”
Perkembangan supervise ditahun 1900 ditandai dengan adanya kegiatan supervise yang masih berorientasi pada hasil. Maka dari itu pelaksanaan supervisi masih sama dengan periode sebelum 1900.
Sekitar tahun 1920, supervisi pendidikan telah menunjukkan kemajuan. Pada periode ini, supervisi pendidikan telah mampu menunjukkan objek , sudut pandang, dan metode yang digunakan. Peran supervise dalam bidang pendidikan sudah tidak diragukan lagi dan dipertanyakan. Dengan demikian pada periode ini supervise telah memiliki jati diri, yaitu menunjukkan identitas dirinya sebagai sebuah ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Selanjutnya Perkembangan  supervisi  pendidikan di periode 1930 sampai 1940 ditandai dengan adanya pengaruh psikologi humanistic. Pandangan humanistic bertolak dari kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan akan harga diri. Disamping itu manusia juga memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri. Paradigm inilah yang menjadikan landasan mengapa supervisi harus lebih mengutamakan proses dari pada hasil. Impilkasi  paradigm ini adalah pola supervisi yang m mendemokratislah yang dianggap memegang peranan penting dalam psikologi humanistic.




DAFTAR PUSTAKA
Sudiyono, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA. Cetakan I 2015                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

KONSEP DASAR SUPERVISI PENDIDIKAN.


A.    KONSEP DASAR SUPERVISI
Konsep Supervisi Pendidikan Yang Modern
Masih dikutip dalam buku perkembangan supervise  pendidikan  bahwa konsep supervisi yang modern menekankan pada pendekatan demokratis. Usaha-usaha yang ditempuh baik oleh supervisor maupun yang disupervisi terdapat kesepakatan keduanya.
Inti supervisi adalah sebagaimana guru dapat melakukan proses pembelajaran yang sebaik-baiknya sehingga para peserta didik dengan mudah melakukan proses pembelajaran. Douglass (1961: 2-3) memberikan konsep supervise pendidikan menjadi 3 kelompok yaitu:
1)      Good supervision is democratic.(supervisi yang demokratis).
Supervise yang baik menurut douglass adalah supervise yang demokratis , karena ketika kita hidup dalam masyarakat yang demokratis sangat diperlukan di dalam kehidupan bermasyaakat dan bernegara, untuk itulah maka proses pendidikan juga harus bersifat demokratis. Implikasinya terhadap supervisi adalah pelaksanaan supervise harus juga bersifat demokratis. Agar untuk tercapainya tujuan demokrasi tersebut, maka dikembangkan di sekolah yang menciptakan suasana demokratis. Disekolah inilah masing-masing individu dapat berkembang pengetahuannya, minat, cita-cita, dan kemampuannya, untuk dapat menemukan dirinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Petugas supervise tidak hanya sadar akan adanya perubahan, tetapi juga harus melihat pendidikan kaitannya dengan perubahan tersebut serta harus mengetahui kecenderungan yang ada dalam masyarakat. Demokrasi dalam dunia pendidikan dilakukan dengan cara memasukkan unsur-unsur kerja sama antara guru dengan supervisor. Mereka secara bersama-sama memecahkan masalah bersama. Supervisor yang demokratis juga menekankan pada pertumbuhan jabatan guru, diskusi dan penentuan tujuan yang bervariasi, menciptakan metode dan prosedur untuk perbaikkan pembelajaran dan pengembangan kemampuan guru dalam rangka pemantapan diri.

2)      Good supervision is objective and systematic.(supervise yang objektif dan sistematis)
Karakteristik supervise ini terletak pada penggunaan metode yang objektif dalam melaksanakan pengukuran proses pembelajaran dan hasil-hasilnya, serta pengelompokkan yang objektif disertai dengan analisis statistic. Konsep supervisi yang objektif dan sistematis mengarah pada pengumpulan data dalam rangka menguji hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang baru. Sifat objektif dan sistematis juga berlaku bagi riset dan percobaan-percobaan yang perlu untuk menentukan efektivitas dan validitas metode dan prosedur, baik bagi program pembelajaran maupun bagi keperluan supervise, terutama sekali bagi supervise pendidikan.

3)      Good supervision is creative.(supervise yang baik adalah supervisi yang kreatif)
Supervise yang creative membutuhkan suatu situasi dimana para guru dan peserta didik dapat tumbuh kemampuannya dibawah tenaga professional.
Tujuaan supervise yang kreatif adalah mengembangkan program kerjasama yang berkenaan dengan perhatian umum , menggunakan riset ilmiah dan mempersiapkan tenaga-tenaga professional yang menuntut problem-problem ilmiah, bebas dari pengawasan, dan menstimulir melalui semangat penemuan.supervisi pendidikan mempuanyai program perbaikan, tidak hanya terbatas ditentukan dan sekaligus ditangani oleh atasan, tetapi kerjasama dipertahankan dan dipelihara dalam rangka pengembangan riset ilmiah.
Jadi supervisi pendidikan adalah pengawasan yang di lakukan oleh supervisor untuk, membantu dan  menyelesaikan masalah yang ada dalam pendidikan.
 adapun tujuan supervisi pendidikan dari Buku kurikulum II D 1975
Tujuan supervisi dirumuskan kepada 5 hal, yaitu:
1) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar.
2) Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
3) Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan
yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan memperoleh hasil yang
optimal.
4) Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya.
5) Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan,
kekurangan, dan kekhilafan serta membantu memecahkan masalah
yang dihadapi sekolah, sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih
jauh


B.     FUNGSI SUPERVISI PENDIDIKAN.                                                                                                                        
a.        Kurikulum 1975
Supervise dibagi menjadi 3
·         Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan kurikulum dengan segala sarana dan prasarana.
·         Membantu serta membina guru/kepala sekolah dengan cara memberikan petunjuk, penerangsn dan pelatihan dan kemampuan mengajarnya.
·         Membantu kepala sekolah/guru untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.
b.        Adapun fungsi supervise menurut Ametembun yaitu sebagai berikut:
·         Penelitian.
Yaitu sebagai pencari solusi untuk pemecahan masalah yang dihadapi.
·         Penilaian.
Yaitu untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, seberapa besar kemajuan yang telah berhasil dicapai. Dan penilain juga dilakukan dengan beberapa cara seperti tes, penetapan standar, penilaian kemajuan belajar peserta didik
·         Perbaikan.
Yaitu sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perseorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugas mereka.
·         Pembinaan.
Yaitu salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi, yaitu dengan melakukan pembinaan atau pelatihan kepada guru-gurutentang cara-cara baru dalam melaksanakan suatu proses pembelajaran


C.     PRINSIP SUPERVISI PENDIDIKAN
 Ngalim Purwanto dalam bukunya Administrasi dan Supervisi Pendidikan bahwa Moh. Rifai, M. A., untuk menjalankan tindakan-tindakan supervisi sebaik-baiknya kepala sekolah hendaklah memperhatikan prinsi-prinsip berikut :
o   Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif, yaitu pada yang dibimbing dan diawasi harus dapat menimbulkan dorongan untuk bekerja.                                                            
o   Supervisi harus didasarkan atas keadaan dan kenyataan yang sebenarbenarnya ( reslistis, mudah dilaksanakan ).
o   Supervisi harus sederhana dan informal dalam melaksanakannya.
o   Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman kepada guru-guru dan pegawai-pegawai sekolah yang disupervisi.
o   Supervisi harus didasarkan atas hubungan professional, bukan atas dasar hubungan pribadi.
o   Supervisi harus selalu memperhitungkan kesanggupan, sikap, dan mungkin prasangka guru-guru dan pegawai. g. Supervisi tidak bersifat mendesak ( otoriter ) karena dapat menimbulkan perasaaan gelisah atau bahkan antipati dari guru-guru
o    Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaaan pangkat, kedudukan atau kekuasaan pribadi.
o   Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan.
o    Supervisi tidak dapat terlalu cepat mengharapkan hasil, dan tidak boleh lekas merasa kecewa.
o   Supervisi hendaknya juga bersifat preventif, korektif, dan kooperatif.
Preventif berarti berusaha mencegah jangan sampai timbul hal-hal yang negatif. Sedangkan korektif yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan  yang telah di perbuat. Dan kooperatif berarti bahwa mencari kesalahankesalah atau kekurangan-kekurangan dan usaha memperbaikinya ndilakukan bersama-sama oleh supervisor dan orang-orang yang diawasi.
Menurut Pidarta (1986: 23) fungsi supervisi itu dapat dibagi (dibedakan) menjadi dua bagian besar, yaitu 
a.       Fungsi utama ialah membantu sekolah yang  sekaligus mewakili pemerintah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yaitu membantu perkembangan individu para siswa.
b.      Fungsi tambahan ialah membantusuiswa dalam   membina guru-guru agar dapat bekerja dengan baik dan dalam mengadakan kontak dengan  masyarakat dalam rangka mernyesuaikan diridengan masyarakat serta mempelopori kemajuan masyarakat



D.    PERANAN SUPERVISI PENDIDIKAN.
Seoraang supervisor dapat berperan sebagai:
a.       Koordinator.
b.      Konsultan.
c.       Pemimpin kelompok
d.      Evaluator.
Dari ke-4 peranan tersebut dapat dipahami bahwa supervisor itulah pusat pertama agar berjalannya supervisi pendidikan, perannya menjadi peran utama dalam menjalankan supervise pendidikan itu.

E.     OBJEK SUPERVISE.
Adapun objek dari supervisi pendidikan terbagi menjadi dua
bagian, yakni pembinaan personil dan pembinaan non-personil.
a.       Pembinaan personil
1)      Kepala sekolah
2)      Guru
3)      staff sekolah
4)       peserta didik.
b.      pembinaan non-personil.
Menurut keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 079/1975, sarana
pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar, yaitu:
1)      Bangunan dan perabotan sekolah.
2)      Alat pelajaran yang terdiri dari pembukuan, alat-alat peraga dan laboratorium.
3)      Media pendidikan yang dapat dikelompokkan menjadi audio-visual yang menggunakan alat penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil.








DAFTAR PUSTAKA
Lantip Diat Prasojo, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA. Cetakan I 2015 http://repository.uin-suska.ac.id/3107/3/BAB%20II.pdf.