Selasa, 02 April 2019

PENDEKATAN SERTA TEKNIK SUPERVISI.



A.    PENDEKATAN/PERILAKU PENGAWAS SATUAN PENDIDIKAN
Perilaku supervisor/pengawas dilandasi oleh tiga pandangan psikologi tentang belajar, yaitu humanistic, kognitivistik dan behavioristik (Glickman, 1981).
Glickman (1981) dalam buku “supervise pembelajaran dan pengembangan kapasitas guru” (Masaong Kadim, 2012: 33-41) mengatakan bahwa:
1.      Pendekatan direktif
Perilaku direktif dalam pelaksanaan supervise dilandasi psikologi behavioristik tentang belajar. Pengawas bertindak selaku pemeran utama dalam membimbing guru untuk perbaikan pembelajaran. Belajar dilakukan dengan control instrumental lingkungan. Penganut behavioristik berpendapat peserta didik akan berhasil mana kala waktu senantiasa dikondisikan dengan baik sesuai lingkungan tertentu. Peserta didik yang memiliki prestasi belajar tinggi diberikan penghargaan  (reward) sedangkan peserta didik yang rendah prestasi diberikan hukuman (punishment).
Jika pandangan behavioristik diterapkan kedalam pelaksanaan supervise pendidikan, maka supervisor menggunakan pendekatan atau perilaku direktif, maka tanggung jawab supervisor lebih tinggi dari pada guru. Apabila tanggung jawab keterlibatan seorang guru dalam mengembangkan profesinya sangat rendah, maka dibutuhkan keterlibatan seorang supervisor yang tingggi dalam membantu guru tersebut untuk mengembangkan kompetensinya dengan baik.
Supervisor yang berorientasi direktif menampilkan perilaku-perilaku pokok seperti yang digambarkan oleh Glickman (1990) sebagai berikut:
1)      Supervisor mengklasifikasi permasalahan.
2)      Supervisor mempresentasikan ide-ide pengembangan profesi kepada guru.
3)      Supervisor mengarahkan guru tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk perbaikan pembelajaran.
4)      Supervisor mendemonstrasikan (memodelkan) perilaku guru yang diinginkan dalam pembelajaran.
5)      Supervisor menetapkan standar perilaku mengajar yang diinginkan.
6)      Supervisor memberikan reward bagi yang tampil sesuai standar.
Jadi  kesimpulannya supervisor bertanggung jawab dalam membantu guru untuk mengembangkan kemampuan serta potensi para guru, dengan menerapkan perilaku direktif Pengawas/supervisor bertindak selaku pemeran utama dalam membimbing guru untuk perbaikan pembelajaran.

2.      Pendekatan non-direktif
Perilaku Non-direktif mengacu pada pandangan humanistic bahwa guru-guru dapat menganalisis dan memecahkan masalah pembelajarannya sendiri. Guru  berpandangan bahwa peningkatan kompetensi menjadi tanggung jawwab utama mereka sehingga pengawas (supervisor) bertindak sebagai fasilitator bagi mereka. Dalam tanggung jawab guru lebih tinggi dalam pembinaan kompetensinya, sedangkan tanggung jawab pengawas lebih rendah.dalam kondisi seperti ini, supervisor mengambil sikap mendengarkan, memperjelas, memberi semangat dan menawarkan.
Supervisor Non-direktiftidak menggunakan standar tetapi lebih mendasarkan pada kebutuhan guru, supervisor dan guru saling memahami dan memberikan kesempatan yang lebih luas bagi guru mengembangkan profesinya.
Langkah-langkah yang ditempuh oleh supervisor dalam pelaksanaan supervise adalah preconference, pengamatan, analisis dan interpretasi, serta postconference sebelum menutup pertemuan. Guru diberi kesempatan menyusun program sendiri untuk mengembangan profesinya selama satu tahun dengan persetujuan kepala sekolah dan pengawas. Supervisor secara aktif mendengarkan, menyederhanakan pernyataan, bertanya dan menghargai ide-ide guru agar terfokus padam penyelesaian masalah-masalah guru. Perilaku pengawas yang berorientasi nondirektif dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1)      Supervisor mendengarkan masalah guru dengan serius.
2)      Seuprvisor memotivasi guru untuk menyederhanakan dan bertanya.
3)      Supervisor mengajukan pertanyaan kemudian menjelaskan maslah-masalah guru.
4)      Supervisor mengupayakan alternative pemecahan masalah saat guru bertanya atau meminta solusi.
5)      Supervisor bertanya kepada guru untuk menentukan rencana tindakan pengembangan diri atau profesi (Glickman, 1990).
Dalam pendekatan Non-direktif ini supervisor mengambil sikap mendengarkan, memperjelas, memberi semangat dan menawarkan menganalisis dan menghadapi  berbagai macam pemecahan masalah dalam membantu seorang guru.
3.      Pendekatan kolaboratif
Perilaku ini mengacu pada pemikiran-pemikiran psikologi belajar kognitif. Pandangan psikologi kognitif menyatakan belajar merupakan perpaduan antara control lingkungan belajar dan penemuan sendiri. Supervisor yang menganut pandangan psikologi kognitif dalam melakukan supervise mengambil tanggung jawab yang bersifat moderat antara supervisor dan guru.
Sikap utama supervisor dengan perilaku kolaboratif meliputi:
Mendengarkan, menawarkan, memecahkan masalah, dan merundingkan. Pengawas membuat kontrak bersama dengan guru setelah terjadi kesepakatan rencana supervise yang disusun bersama. Langkah-langkah yang ditempuh supervisor yang berperilaku kolaboratif meliputi prakonferensi, observasi kelas, analisis, poskconferensi. Rencana pelaksanaan supervise ditandatangani bersama antara guru dan supervisor. Tahapan-tahapan supervise dengan perilaku kolaboratif adalah sebagai berikut.
1)      Supervisor menemui guru dengan menawarkan model atau strategi pembelajaran yang perlu diperbaiki.
2)      Supervisor menanyakan pendapat guru tentang tujuan pelaksanaan supervise.
3)      Supervisor mendengarkan pendapat guru.
4)      Supervisor dan guru mengajukan alternative dan pemecahan masalah.
5)      Supervisor bersama guru membahas tindakan dan menetapkan rencana bersama (Glicman, 1990).
Dalam pendekatan kolaboratif ini guru dan supervisor saling bekerja sama. Dalam pendekatan ini supervisor juga mempunyai sikap yaitu seperti Mendengarkan, menawarkan, memecahkan masalah, dan merundingkan. Pengawas/supervisor  membuat kontrak bersama dengan guru setelah terjadi kesepakatan rencana supervisi yang disusun bersama antara guru dan supervisor. Jadi dalam pendekatan ini supervisor tidak lagi menyalah-nyalahkan guru tetapi mencari jalan keluar pemecahan masalah dengan menjalin kerja sama.
Adapun pendekatan supervise dalam buku “supervise pendidikan meningkatkan kualitas profesionalisme guru” (Muslim Sri Banun, cetakan ke-III 2013: 77-80):
1.      Pendekatan direktif.
Pada pendekatan ini perilaku yang menonjol dari supervisor adalah “demonstrating, directing, standizing,dan reinforcing”. Tanggung jawab supervise lebih banyak berada pada supervisor,karena itu supervisor harus benar-benar mempersiapkan diri dengan cara membekali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kegiatan supervise. Supervisor menganggap bahwa dengan tanggung jawab itu dia dapat melakukan perubahan perilaku mengajar dengan memberikan pengarahan yang jelas terhadap setiap rencana kegiatan yang akan dievaluasi.
2.      Pendekatan Kolaboratif.
Pada pendekatan ini perilaku supervise yang menonjol dari supervisor adalah ”presenting, problem solving, dan negotiating”. Tugas supervisor dalam hal ini adalah mendengarkan dan memperhatikan secara cermat akan keprihatinan guru tehadap masalah perbaikan mengajarkan dan juga gagasan-gagasan guru untuk mengatasi masalah itu. Selanjutnya supervise dapat meminta penjelasan kepada guru apabila ada hal-hal yang diungkapkannya kurang dipahami, kemudian ia mendorong guru untuk mengaktualisasikan inisiatif yang dipikirkannya untuk memecahkan masalahnya yang dihadapinya atau meningkatkan pengajarannya.
3.      Pendekatan Non-Direktif.
Pendekatan Nondirective ini berangkat dari premis bahwa belajar adalah pengalaman pribadi, sehingga pada akhirnya individu harus mampu memecahkan masalahnya sendiri. Oeranan supervisor disini adalah mendengarkan, mendorong atau membangkitkan kesadaran sendiri dan pengalaman-pengalaman guru diklasifikasikan. Oleh karena itu, pendekatan inibercirikan guru, mendorong guru, mengajukan pertanyaan, menawarkan pikiran bila diminta dan dan membimbing guru untuk melakukan tindakan. Tanggung jawab supervise lebih banyak berada di pihak guru.
B.     TEKNIK – TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN
Teknik-teknik supervisi dalam buku “Supervisi Pembelajaran” (Daryanto, cetakan I 2015: 40-42)
1.      Teknik supervise Bersifat Individual.
Teknik supervise individual merupakan pelaksanaan supervise perseorangan terhadap guru. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru.dari hasil supervise ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru yang bersangkutan.
Teknik supervise individual ada lima macam, yaitu:
a)      Kunjungaan kelas, (classroom, visitation)
Kepala sekolah atau supervisor datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan guru dalam mengajar, sehingga dapat diketahui sejauh mana kemampuan guru dalam mengajar, sehingga dapat diketahui dimana letak kekurangannya. Cara ini terdiri dari 4 tahap yaitu:
1)      Tahap persiapan. Pads tshsp ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara untuk mengobsertvasi selama kunjungan kelas.
2)      Tahap pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran yang berlangsung.
3)      Tahap akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengadakan perjanjian dengan guru untuk membicarakan hasil-hasil observasi, dan
4)      Tahap terakhir adalah tahap lanjut. Pada tahap ini, supervisor menindaklanjuti setiap temuan dalam pelaksanaan supervisor menindaklanjuti setiap temuan dalam pelaksanaan supervise sebagai acuan dalam memutuskan tindakan atau kebijakan.
b)      Kunjungan observasi (observasi visits).
Mengusahakan guru-guru untuk mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar mereka dalam suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat dilaksanakan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah lain. Secara umum, aspek-aspek yang di observasi adalah: usaha-usaha dan aktivitas guru peserta didik dalam proses pembelajaran, cara menggunakan media pengajaran, variasi metode, keterpatan penggunaan media dengan materi, ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan reaksi mental para peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Pelaksaan observasi melalui tahap persiapan, pelaksanaan, penutupan, penilaiann hasil observasi dan tindak lanjut.
c)      Pertemuan individual.
Pertemuan individual adalah satu pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor dan guru.
Tujuannya adalah:
a.       Mengembangkan perangkat pembelajaran yang lebih baik.
b.      Meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran, dan
c.       Memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru.
d)     Kunjungan antar kelas.
Kunjungan antar kelas adlah guru yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adlah untuk berbagi pengalaman di dalam pembelajaran.
Cara-cara melaksanakan kunjungan antar kelas adalah sebagai berikut:
a.       Merencanakan jadwal kunjungan terlebih dahulu.
b.      Menyeleksi guru-guru yang akan dikunjungi.
c.       Menentukan guru-guru yang akan mengunjungi.
d.      Menyediakan segala fasilitas yang diperlukan.
e.       Mengadakan tindak lanjut setelah kunjungan kelas selesai, misalnya dlam bentuk percakapan pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
f.       Mengaplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi.
g.      Mengadakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.

2.      Teknik Supervise Bersifat Kelompok.
Dalam teknik supervise kelompok, terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah sebagai berikut.:
a.       Mengadakan pertemuan atau rapat (meeting). Rapat tersebut antara lain melibatkan KKG, MPMP, dan Rapat dengan pihak luar Sekolah.
b.      Mengadakan diskusi kelompok (group discussions), Diskusi kelompok dapat diadakan dengann membentuk kelompok-kelompok guru bidang studi sejenis. Di dalam setiap diskusi, supervisor atau kepala sekolah memberikan pengarahan, bimbingan, nasehat-nasehat dan saran-saran yang diperlukan.
c.       Mengadakan penataan-penataan (inservice-training), Teknik ini dilakukan melalui penataran-penataran, misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu.

Pelaksanaan supervisi akademik, adalah supervisor yang bertugas sebagai berikut:
a.       Berusaha mengembangkan segi-segi positif guru.
b.      Mendorong guru mengatasi kesulitan-kesulitan.
c.       Memberikan pengarahan
d.      Menyepakati berbagai solusi permasalahan menindak lanjutinya.

Teknik-teknik supervise juga dijelaskan dalam buku “supervise pendidikan meningkatkan kualitas profesionalisme guru” (Muslim Sri Banun, cetakan ke-III 2013: 73-76):
Untuk dapat menjalankan tugasnya secara efektif, supervisor pengajaran diharapkan dapat memilih teknik-teknik supervise yang cocokdengan tujuan yang akan dicapai. Ada sejumlah teknik supervise yang dapat dipilih dan di praktekkan supervisor, diantaranya:
a.       Kunjungan atau observasi kelas.
Kunjungan kelas adalah kunjungan seorang supervisor ke kelas pada saat guru sedang mengajar, artinya supervisor menyaksikan dan mengamati guru mengajar. Para pakar supervise menggambarkan observasikelas sebagai satu kegiatan yang sangat penting dan bahkan sangat sentral dalam proses supervise (Harris, 1985 Alfonso dkk, dan Oliva, 1984).
Melalui kunjungan kelas tersebut supervisor dapat mengetahui apa kelebihan dan apa kekurangan guru terutama dalam konteks pelaksanaan KBM. Oleh karena itu, hasil kunjungan kelas  tersebut bisa dipergunakan dan di analisis oleh supervisor bersama guru dalam rangka menyusun suatu program yang cocok untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang ada.
b.      Pembicaraan individual.
Pembicaraan individual atau individual conference adalah percakapan pribadi antara seorang supervisor dengan seorang buru. Untuk keefektifan pelaksanaan individual conference, beberapa hal berikut perlu mendapat perhatian
a.       Supervisorjangan memborong pembicaraan
b.      Sebelum membicarakan segi-segi negative (kelemahan-kelemahan) guru, mulailah membicarakan segi-segi positif (kelebihan-kelebihan guru).
c.       Ciptakan situasi dan kondisi yang dapat membuat guru mau dan berani untuk menganalisis dan mengevaluasi hasil pekerjaannya sendiri.
d.      Supervisor memposisikan dirinya sebagai kolega bukan sebagai atasan guru.
c.       Rapat guru (Rapat supervise)
Rapat supervise bisa diselenggarakan bila guru-guru memiliki masalah yang sama. Yang dimaksudkan dengan rapat supervise tersebut adalah rapat yang diselenggarakan oleh supervisor untuk membahas masalah-masalah yang menyangkut usaha perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan pada umumnya dan mutu pengajaran pada khususnya.
Rapat supervise dalam penyelenggaraan nya bisa mengambil beberapa bentuk pertemuan, seperti diskusi panel, seminar, lokakarya, komperensi, kelompok studi, pekerjaan komisi, dan kegiatan lain yang bertujuan untuk bersama-sama membicarakan dan menilai masalah-masalah tentang pendidikan dan pengajaran (Oteng Sutisna, 1983).
Menurut Oteng Sutisna (1983) dalam buku “Supervise Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru” mengatakan bahwa pertemuan-pertemuan serupa itu penting dalam supervise modern, sehingga guru sebenarnya hidup dalam suasana berbagai jenis pertemuan kelompok


Daftar rujukan
Daryanto, 2015. Spuervisi Pembelajaran. Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA.
Masaong, Kadim. 2012. Supervise Pembelajaran dan Pengembangan Kapasitas Guru. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Muslim, Sri Banun. 2013 cetakan ke-III. Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. IKAPI: ALFABETA.