A. PENDEKATAN/PERILAKU PENGAWAS SATUAN
PENDIDIKAN
Perilaku supervisor/pengawas dilandasi oleh tiga
pandangan psikologi tentang belajar, yaitu humanistic, kognitivistik dan
behavioristik (Glickman, 1981).
Glickman (1981) dalam buku “supervise pembelajaran dan pengembangan kapasitas guru” (Masaong
Kadim, 2012: 33-41) mengatakan bahwa:
1.
Pendekatan direktif
Perilaku
direktif dalam pelaksanaan supervise dilandasi psikologi behavioristik tentang
belajar. Pengawas bertindak selaku pemeran utama dalam membimbing guru untuk
perbaikan pembelajaran. Belajar dilakukan dengan control instrumental
lingkungan. Penganut behavioristik berpendapat peserta didik akan berhasil mana
kala waktu senantiasa dikondisikan dengan baik sesuai lingkungan tertentu.
Peserta didik yang memiliki prestasi belajar tinggi diberikan penghargaan (reward)
sedangkan peserta didik yang rendah prestasi diberikan hukuman (punishment).
Jika
pandangan behavioristik diterapkan kedalam pelaksanaan supervise pendidikan,
maka supervisor menggunakan pendekatan atau perilaku direktif, maka tanggung
jawab supervisor lebih tinggi dari pada guru. Apabila tanggung jawab
keterlibatan seorang guru dalam mengembangkan profesinya sangat rendah, maka
dibutuhkan keterlibatan seorang supervisor yang tingggi dalam membantu guru
tersebut untuk mengembangkan kompetensinya dengan baik.
Supervisor
yang berorientasi direktif menampilkan perilaku-perilaku pokok seperti yang
digambarkan oleh Glickman (1990) sebagai berikut:
1) Supervisor
mengklasifikasi permasalahan.
2) Supervisor
mempresentasikan ide-ide pengembangan profesi kepada guru.
3) Supervisor
mengarahkan guru tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk perbaikan
pembelajaran.
4) Supervisor
mendemonstrasikan (memodelkan) perilaku guru yang diinginkan dalam
pembelajaran.
5) Supervisor
menetapkan standar perilaku mengajar yang diinginkan.
6) Supervisor
memberikan reward bagi yang tampil sesuai standar.
Jadi kesimpulannya supervisor bertanggung jawab dalam
membantu guru untuk mengembangkan kemampuan serta potensi para guru, dengan
menerapkan perilaku direktif Pengawas/supervisor bertindak selaku pemeran utama
dalam membimbing guru untuk perbaikan pembelajaran.
2.
Pendekatan non-direktif
Perilaku
Non-direktif mengacu pada pandangan humanistic bahwa guru-guru dapat
menganalisis dan memecahkan masalah pembelajarannya sendiri. Guru berpandangan bahwa peningkatan kompetensi
menjadi tanggung jawwab utama mereka sehingga pengawas (supervisor) bertindak
sebagai fasilitator bagi mereka. Dalam tanggung jawab guru lebih tinggi dalam
pembinaan kompetensinya, sedangkan tanggung jawab pengawas lebih rendah.dalam
kondisi seperti ini, supervisor mengambil sikap mendengarkan, memperjelas,
memberi semangat dan menawarkan.
Supervisor
Non-direktiftidak menggunakan standar tetapi lebih mendasarkan pada kebutuhan
guru, supervisor dan guru saling memahami dan memberikan kesempatan yang lebih
luas bagi guru mengembangkan profesinya.
Langkah-langkah
yang ditempuh oleh supervisor dalam pelaksanaan supervise adalah preconference, pengamatan, analisis dan
interpretasi, serta postconference
sebelum menutup pertemuan. Guru diberi kesempatan menyusun program sendiri
untuk mengembangan profesinya selama satu tahun dengan persetujuan kepala
sekolah dan pengawas. Supervisor secara aktif mendengarkan, menyederhanakan
pernyataan, bertanya dan menghargai ide-ide guru agar terfokus padam
penyelesaian masalah-masalah guru. Perilaku pengawas yang berorientasi
nondirektif dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1) Supervisor
mendengarkan masalah guru dengan serius.
2) Seuprvisor
memotivasi guru untuk menyederhanakan dan bertanya.
3) Supervisor
mengajukan pertanyaan kemudian menjelaskan maslah-masalah guru.
4) Supervisor
mengupayakan alternative pemecahan masalah saat guru bertanya atau meminta
solusi.
5) Supervisor
bertanya kepada guru untuk menentukan rencana tindakan pengembangan diri atau
profesi (Glickman, 1990).
Dalam pendekatan
Non-direktif ini supervisor mengambil sikap mendengarkan, memperjelas, memberi
semangat dan menawarkan menganalisis dan menghadapi berbagai macam pemecahan masalah dalam
membantu seorang guru.
3.
Pendekatan kolaboratif
Perilaku ini mengacu pada pemikiran-pemikiran
psikologi belajar kognitif. Pandangan psikologi kognitif menyatakan belajar
merupakan perpaduan antara control lingkungan belajar dan penemuan sendiri. Supervisor
yang menganut pandangan psikologi kognitif dalam melakukan supervise mengambil
tanggung jawab yang bersifat moderat antara supervisor dan guru.
Sikap utama supervisor dengan perilaku kolaboratif
meliputi:
Mendengarkan,
menawarkan, memecahkan masalah, dan merundingkan. Pengawas membuat kontrak
bersama dengan guru setelah terjadi kesepakatan rencana supervise yang disusun
bersama. Langkah-langkah yang ditempuh supervisor yang berperilaku kolaboratif
meliputi prakonferensi, observasi kelas, analisis, poskconferensi. Rencana
pelaksanaan supervise ditandatangani bersama antara guru dan supervisor.
Tahapan-tahapan supervise dengan perilaku kolaboratif adalah sebagai berikut.
1) Supervisor
menemui guru dengan menawarkan model atau strategi pembelajaran yang perlu
diperbaiki.
2) Supervisor
menanyakan pendapat guru tentang tujuan pelaksanaan supervise.
3) Supervisor
mendengarkan pendapat guru.
4) Supervisor
dan guru mengajukan alternative dan pemecahan masalah.
5) Supervisor
bersama guru membahas tindakan dan menetapkan rencana bersama (Glicman, 1990).
Dalam
pendekatan kolaboratif ini guru dan supervisor saling bekerja sama. Dalam pendekatan
ini supervisor juga mempunyai sikap yaitu seperti Mendengarkan, menawarkan,
memecahkan masalah, dan merundingkan. Pengawas/supervisor membuat kontrak bersama dengan guru setelah
terjadi kesepakatan rencana supervisi yang disusun bersama antara guru dan
supervisor. Jadi dalam pendekatan ini supervisor tidak lagi menyalah-nyalahkan guru
tetapi mencari jalan keluar pemecahan masalah dengan menjalin kerja sama.
Adapun pendekatan
supervise dalam buku “supervise pendidikan
meningkatkan kualitas profesionalisme guru” (Muslim Sri Banun, cetakan
ke-III 2013: 77-80):
1. Pendekatan
direktif.
Pada pendekatan ini perilaku yang
menonjol dari supervisor adalah “demonstrating,
directing, standizing,dan reinforcing”. Tanggung jawab supervise lebih
banyak berada pada supervisor,karena itu supervisor harus benar-benar
mempersiapkan diri dengan cara membekali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
kegiatan supervise. Supervisor menganggap bahwa dengan tanggung jawab itu dia
dapat melakukan perubahan perilaku mengajar dengan memberikan pengarahan yang
jelas terhadap setiap rencana kegiatan yang akan dievaluasi.
2. Pendekatan
Kolaboratif.
Pada pendekatan ini perilaku supervise
yang menonjol dari supervisor adalah ”presenting,
problem solving, dan negotiating”.
Tugas supervisor dalam hal ini adalah mendengarkan dan memperhatikan secara
cermat akan keprihatinan guru tehadap masalah perbaikan mengajarkan dan juga
gagasan-gagasan guru untuk mengatasi masalah itu. Selanjutnya supervise dapat
meminta penjelasan kepada guru apabila ada hal-hal yang diungkapkannya kurang
dipahami, kemudian ia mendorong guru untuk mengaktualisasikan inisiatif yang
dipikirkannya untuk memecahkan masalahnya yang dihadapinya atau meningkatkan
pengajarannya.
3. Pendekatan
Non-Direktif.
Pendekatan Nondirective ini berangkat dari premis bahwa belajar adalah
pengalaman pribadi, sehingga pada akhirnya individu harus mampu memecahkan
masalahnya sendiri. Oeranan supervisor disini adalah mendengarkan, mendorong
atau membangkitkan kesadaran sendiri dan pengalaman-pengalaman guru
diklasifikasikan. Oleh karena itu, pendekatan inibercirikan guru, mendorong
guru, mengajukan pertanyaan, menawarkan pikiran bila diminta dan dan membimbing
guru untuk melakukan tindakan. Tanggung jawab supervise lebih banyak berada di
pihak guru.
B. TEKNIK – TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN
Teknik-teknik supervisi
dalam buku “Supervisi Pembelajaran” (Daryanto,
cetakan I 2015: 40-42)
1. Teknik
supervise Bersifat Individual.
Teknik supervise
individual merupakan pelaksanaan supervise perseorangan terhadap guru.
Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru.dari hasil supervise
ini dapat diketahui kualitas pembelajaran guru yang bersangkutan.
Teknik supervise
individual ada lima macam, yaitu:
a) Kunjungaan
kelas, (classroom, visitation)
Kepala sekolah atau supervisor
datang ke kelas untuk mengobservasi guru mengajar. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui sejauhmana kemampuan guru dalam mengajar, sehingga dapat diketahui
sejauh mana kemampuan guru dalam mengajar, sehingga dapat diketahui dimana
letak kekurangannya. Cara ini terdiri dari 4 tahap yaitu:
1) Tahap
persiapan. Pads tshsp ini, supervisor merencanakan waktu, sasaran, dan cara
untuk mengobsertvasi selama kunjungan kelas.
2) Tahap
pengamatan selama kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengamati jalannya
proses pembelajaran yang berlangsung.
3) Tahap
akhir kunjungan. Pada tahap ini, supervisor mengadakan perjanjian dengan guru
untuk membicarakan hasil-hasil observasi, dan
4) Tahap
terakhir adalah tahap lanjut. Pada tahap ini, supervisor menindaklanjuti setiap
temuan dalam pelaksanaan supervisor menindaklanjuti setiap temuan dalam pelaksanaan
supervise sebagai acuan dalam memutuskan tindakan atau kebijakan.
b) Kunjungan
observasi (observasi visits).
Mengusahakan guru-guru untuk
mengamati seorang guru lain yang sedang mendemonstrasikan cara-cara mengajar
mereka dalam suatu mata pelajaran tertentu. Kunjungan observasi dapat
dilaksanakan di sekolah sendiri atau dengan mengadakan kunjungan ke sekolah
lain. Secara umum, aspek-aspek yang di observasi adalah: usaha-usaha dan
aktivitas guru peserta didik dalam proses pembelajaran, cara menggunakan media
pengajaran, variasi metode, keterpatan penggunaan media dengan materi,
ketepatan penggunaan metode dengan materi, dan reaksi mental para peserta didik
dalam proses belajar mengajar.
Pelaksaan observasi melalui tahap
persiapan, pelaksanaan, penutupan, penilaiann hasil observasi dan tindak
lanjut.
c) Pertemuan
individual.
Pertemuan individual adalah satu
pertemuan, percakapan, dialog, dan tukar pikiran antara supervisor dan guru.
Tujuannya adalah:
a. Mengembangkan
perangkat pembelajaran yang lebih baik.
b. Meningkatkan
kemampuan guru dalam pembelajaran, dan
c. Memperbaiki
segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru.
d) Kunjungan
antar kelas.
Kunjungan antar kelas adlah guru
yang satu berkunjung ke kelas yang lain di sekolah itu sendiri. Tujuannya adlah
untuk berbagi pengalaman di dalam pembelajaran.
Cara-cara melaksanakan kunjungan
antar kelas adalah sebagai berikut:
a. Merencanakan
jadwal kunjungan terlebih dahulu.
b. Menyeleksi
guru-guru yang akan dikunjungi.
c. Menentukan
guru-guru yang akan mengunjungi.
d. Menyediakan
segala fasilitas yang diperlukan.
e. Mengadakan
tindak lanjut setelah kunjungan kelas selesai, misalnya dlam bentuk percakapan
pribadi, penegasan, dan pemberian tugas-tugas tertentu.
f. Mengaplikasikan
ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan, dengan menyesuaikan pada situasi
dan kondisi yang dihadapi.
g. Mengadakan
perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya.
2. Teknik
Supervise Bersifat Kelompok.
Dalam teknik supervise
kelompok, terdapat beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain adalah
sebagai berikut.:
a. Mengadakan
pertemuan atau rapat (meeting). Rapat
tersebut antara lain melibatkan KKG, MPMP, dan Rapat dengan pihak luar Sekolah.
b. Mengadakan
diskusi kelompok (group discussions),
Diskusi kelompok dapat diadakan dengann membentuk kelompok-kelompok guru bidang
studi sejenis. Di dalam setiap diskusi, supervisor atau kepala sekolah
memberikan pengarahan, bimbingan, nasehat-nasehat dan saran-saran yang
diperlukan.
c. Mengadakan
penataan-penataan (inservice-training), Teknik ini dilakukan melalui
penataran-penataran, misalnya penataran untuk guru bidang studi tertentu.
Pelaksanaan supervisi akademik,
adalah supervisor yang bertugas sebagai berikut:
a. Berusaha
mengembangkan segi-segi positif guru.
b. Mendorong
guru mengatasi kesulitan-kesulitan.
c. Memberikan
pengarahan
d. Menyepakati
berbagai solusi permasalahan menindak lanjutinya.
Teknik-teknik supervise
juga dijelaskan dalam buku “supervise pendidikan
meningkatkan kualitas profesionalisme guru” (Muslim Sri Banun, cetakan
ke-III 2013: 73-76):
Untuk dapat menjalankan tugasnya
secara efektif, supervisor pengajaran diharapkan dapat memilih teknik-teknik supervise
yang cocokdengan tujuan yang akan dicapai. Ada sejumlah teknik supervise yang
dapat dipilih dan di praktekkan supervisor, diantaranya:
a. Kunjungan
atau observasi kelas.
Kunjungan kelas adalah kunjungan
seorang supervisor ke kelas pada saat guru sedang mengajar, artinya supervisor
menyaksikan dan mengamati guru mengajar. Para pakar supervise menggambarkan
observasikelas sebagai satu kegiatan yang sangat penting dan bahkan sangat
sentral dalam proses supervise (Harris, 1985 Alfonso dkk, dan Oliva, 1984).
Melalui kunjungan kelas tersebut
supervisor dapat mengetahui apa kelebihan dan apa kekurangan guru terutama
dalam konteks pelaksanaan KBM. Oleh karena itu, hasil kunjungan kelas tersebut bisa dipergunakan dan di analisis
oleh supervisor bersama guru dalam rangka menyusun suatu program yang cocok
untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang ada.
b. Pembicaraan
individual.
Pembicaraan individual atau individual conference adalah percakapan
pribadi antara seorang supervisor dengan seorang buru. Untuk keefektifan
pelaksanaan individual conference,
beberapa hal berikut perlu mendapat perhatian
a. Supervisorjangan
memborong pembicaraan
b. Sebelum
membicarakan segi-segi negative (kelemahan-kelemahan) guru, mulailah
membicarakan segi-segi positif (kelebihan-kelebihan guru).
c. Ciptakan
situasi dan kondisi yang dapat membuat guru mau dan berani untuk menganalisis
dan mengevaluasi hasil pekerjaannya sendiri.
d. Supervisor
memposisikan dirinya sebagai kolega bukan sebagai atasan guru.
c. Rapat
guru (Rapat supervise)
Rapat supervise bisa
diselenggarakan bila guru-guru memiliki masalah yang sama. Yang dimaksudkan
dengan rapat supervise tersebut adalah rapat yang diselenggarakan oleh
supervisor untuk membahas masalah-masalah yang menyangkut usaha perbaikan dan
peningkatan mutu pendidikan pada umumnya dan mutu pengajaran pada khususnya.
Rapat supervise dalam
penyelenggaraan nya bisa mengambil beberapa bentuk pertemuan, seperti diskusi
panel, seminar, lokakarya, komperensi, kelompok studi, pekerjaan komisi, dan
kegiatan lain yang bertujuan untuk bersama-sama membicarakan dan menilai
masalah-masalah tentang pendidikan dan pengajaran (Oteng Sutisna, 1983).
Menurut Oteng Sutisna (1983) dalam
buku “Supervise Pendidikan Meningkatkan
Kualitas Profesionalisme Guru” mengatakan bahwa pertemuan-pertemuan serupa
itu penting dalam supervise modern, sehingga guru sebenarnya hidup dalam
suasana berbagai jenis pertemuan kelompok
Daftar
rujukan
Daryanto, 2015. Spuervisi Pembelajaran. Yogyakarta:
PENERBIT GAVA MEDIA.
Masaong, Kadim. 2012. Supervise Pembelajaran dan Pengembangan
Kapasitas Guru. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Muslim, Sri Banun. 2013 cetakan
ke-III. Supervisi Pendidikan Meningkatkan
Kualitas Profesionalisme Guru. IKAPI: ALFABETA.