MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN
Model
berasal dari Bahasa Inggris Modle, yang bermakna bentuk atau kerangka sebuah
konsep, atau pola. Harjanto (2006) mengartikan model sebagai kerangka
konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan suatu
kegiatan.
Sahertian
(2000) membagi model supervisi menjadi tiga bentuk:
a. model
konvensional (tradisional).
b. model
ilmiah.
c. model
klinis dan.
d. model
artistik.
1. Model
konvensional (tradisional)
Model ini tidak lain dari refleksi dari kondisi
masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan
berpengaruh pada sikap pemimpin yang otokrat dan korektif. Pemimpin cenderung
untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi
untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat
memata-matai. Perilaku seperti ini disebut snoopervision (memata-matai). Sering
disebut supervisi yang korektif.
Pekerjaan seorang supervisor yang bermaksud hanya
untuk mencari kesalahan adalah suatu permulaan yang tidak berhasil.
Mencari-cari kesalahan dalam membimbing sangat bertentangan dengan prinsip dan
tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya guru-guru merasa tidak puas dan ada dua
sikap yang tampak dalam kinerja guru: 1) Acuh tak acuh (masa bodoh), dan (2)
Menantang (agresif).
Seorang supervisor seharusnya tidak banyak menyalahkan
yang disupervisi sebaiknya supervisor menggunakan komunikasi yang baik apa yang dimaksudkan sehingga para guru
menyadari bahwa dia harus memperbaiki kesalahannya. Para guru akan dengan
senang hati melihat dan menerima bahwa ada yang harus diperbaiki. Caranya harus
secara taktis pedagogis atau dengan perkataan lain, memakai bahasa penerimaan
bukan bahasa penolakan. dengan begitu guru dapat menerima kritikan dari seorang supervisor tersebut dengan hati yang lapang tidak merasa dongkol ataupun jengkel ketika disalah-salahkan oleh supervisor.
2. Model
Supervisi Ilmiah.
Supervisi
yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Dilaksanakan
secara berencana dan kontinu;.
b. Sistematis
dan menggunakan prosedur serta teknik tertentu.
c. Menggunakan
instrumen pengumpulan data.
d. Ada
data yang objektif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan
merit rating, skala penilaian atau checklist lalu para siswa atau mahasiswa
menilai proses kegiatan belajar-mengajar guru/dosen di kelas. Kemudian dengan
pemberian ratting dari siswa maka seorang guru dapat memperbaiki atau
mengkoreksi hasil penilaian dari siswa-siswanya. Maka hal tersebut ataupun
dengan cara tersebut membantu guru memperbaiki masalah yang dihadapinya.
3. Model
Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang
difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik,
dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang
penampilan mengajar yang nyata, serta bentujuan mengadakan perubahan dengan
cara yang rasional. Supervisi klinis adalah proses membantu guru-guru
memperkecil kesenjangan antara tingkah laku rnengajar yang nyata dengan tingkah
laku mengajar yang ideal.
Menurut bebrapa ahli seperti Goldhammer, Anderson &
krajewski, 1980 dan Garman, 1982 ( dalam Sergiovanni, 1991) Supervise klinis
merupakan strategi yang efektif dalam memperbaiki pengajaran. Supervise klinis
termasuk aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam kelas. Ia berkenaan dengan
perbaikan mengajar dan belajar melalui observasi langsung terhadap tindakan
guru dan siswa dalam lingkungan belajar. Supervisi klinis menekankan pada tiga
hal :
a. Hubungan
dan interaksi tatapo muka antara supervisor dengan guru.
b. Peningkatan
hubungan professional yang akrab antara supervisor dengan guru.
c. Observasi
yang cermat untuk memperoleh data yang akurat.
4. Model
Supervisi Artistik
Sejalan
dengan tugas mengajar supervisi juga sebagai kegiatan mendidik dapat dikatakan
bahwa supervisi adalah suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu
kiat.
SUMBER
Muslim,
Banun Sri. 2013. Supervisi Pendidikan
Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru. IKAPI: ALFABETA CV.
Terkait dengan model konvensional (tradisional). Adakah kelebihan dan kekurangan dalam model ini?
BalasHapusterimakasih atas ilmunya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusCoba anda jlaskan perbedaan dari model" sp trsebut!
BalasHapusBagaimanakah cara penerapan model ilmiah kepada guru paud oleh supervisor ?
BalasHapus