A. LATAR
BELAKANG SUPERVISI PENDIDIKAN
Latar
belakang supervise pendidikan dibagi menjadi 4 yaitu secara kultural,
filosofis, psikologis, dan social.
Dikutip
dalam buku
Menurut
swearingen supervise pendidikan dilaksanakan dilihat dari latar belakang
sebagai berikut:
a. Latar
belakang secara kultural:
di zaman yang semakin
maju manusia berkembang mengikuti zaman, hal ini menyebabkan perubahan dan
pencampuran kebudayaan. Sekolah sebagai salah satu pusat kebudayaan, bertugas
dan bertanggung jawab untuk menyeleksi antara yang negative dan yang positif. Budaya
yang bermacam-macam dapat mempengaruhi lapangan gerak pendidikan dan pengajara.
Sekolah bertugas mengkoordinir semua
usaha dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Oleh karena
itu dibutuhkan supervise pendidikan yang bertugas untuk mengkoordinasi semua
usaha sekolah, dan memperkembangkan segala usaha untuk mencapai tujuan pendidikan.
b. Latar
belakang secara filosofis:
tiap zaman alam pikiran
manusia mengalami peningkatan secara bertahap. Kecakapan untuk berfikir,
merencanakan dan utuk berbuat merupakan usaha-usaha nyata dalam mengisi
kebutuhan manusia. Manusia mempunyai potensi-potensi yang menghasilkan sesuatu
pada setiap situasi, sehingga dengan demikian setiap pengalaman itu bersifat
potensi kreatif, mau tidak mau
dibutuhkan daya koordinasi dan penyusunan rencana-rencana untuk mengatur
interaksi manusia. Hal ini menjadi dasar filosofi bahwa dalam pendidikan perlu
adanya supervise yang mengatur dan mengkoordinir pendidikan dan pengajaran.
c. Latar
belakang secara psikologis:
salah satu pandangan
psikologi modern didalam pendidikan adalah pentingnya dorongan-dorongan
emosional bagi anak waktu belajar seperti memberi motifasi. Hal ini juga
dibutuhkan oleh orang dewasa. Usaha untuk mengembangkan dorongan-dorongan
emosional bagi orang dewasa yang sedang belajar adalah salah satu fungsi supervise.
d. Latar
belakang secara social:
supervisi bersumber
pada dassar kehidupan social, dimana masyarakat
demokratis, pemimpin juga demokratis. Seorang supervisor biasanya adalah seorang yang memiliki status leader karena kedudukannya dan oleh
karena itu ia memiliki tanggung jawab untuk merealisasikan potensi-potensi
dalam memecahkan setiap masalah ataupun
problematika dengan cara mengikut sertakan pendapat orang lain.
e. Latar
bekalang secara sosiologis:
perkembangan seseorang tidak saja
berdasarkan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi bergantung juga kepada
perlengkapan fisik yaitu perkembangan melalui kondisi-kondisi social. Oleh karena
itu dalam proses kehidupan, maka sekolah dan masyarakat bersama-sama menaruh
perhatian khusus terhadap perkembangan intelek, emosi, dan sebagainya dari
anak-anak. Perlunya menyelidiki kondisi-kondisi masyarakat yang mempengaruhi,
langsung atau tidak langsung perkembangan anak sehingga guru dapat membantu
sekolah dan membina usah-usaha didiknya adalah salah satu fungsi kreatif dari supervise
pendidikan.
B. PERKEMBANGAN
SUPERVISE PENDIDIKAN
Dikutip
dari buku supervise pendidikan sudiyono halaman (13-22):
Pada
abad ke 19 telah terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam bidang ilmu pengetahuan
dan industry. Pola-pola pengawasan dalam bidang produksi telah merembes bahkan
diadopsi atau diadaptasi dalam bidang pendidikan. Pola pengawasan yang
dilakukan dalam sector dunia industry lebih terfokus pada hasil atau produk. Sementara,
sector pendidikan mestinya memiliki kekhususan. Pendidikan merupakan dunia yang
berbeda dengan dunia usaha. Dalam dunia pendidikan yang diproses adalah
manusia. Produk pendidikan juga berupa manusia.
Oleh
karena itu pengawasan berkembang didunia
usaha, maka pengawasan yang dilakukan oleh atasan atau pengawas terhadap
karyawan atau bawahan bersifat administrative. Demikian juga dalam bidang
pendidikan, pengawasan juga dilakukan oleh supervisor terhadap guru lebih
bersifat teknis administrative.
Imlikasinya
adalah di didalam melakukan supervisi cenderung mencari-cari kesalahan. Tenaga pengawas
yang melaksanakan tugas kepengawasan belum dihasilkan oleh lembaga pendidikan
yang memang ditugasi untuk tugas kepengawasan secara professional. Akibatnya,
pelaksanaan tugas supervisi hanyalah pekerjaan sampingan. Dalam masa inin,
pengawas menganggap dirinya selalu lebih unggul dari pada para guru-guru.
Kondisi
ini buka sepenuhnya kesalahan pengawas, tetapu disebabkan cara berfikir
tersebut saat itu menjadi cara berfikir yang digandrungi atau di jadikan acuan
kebanyakan individu, bahkan disebut juga dengan “reifikasi”
Perkembangan
supervise ditahun 1900 ditandai dengan adanya kegiatan supervise yang masih
berorientasi pada hasil. Maka dari itu pelaksanaan supervisi masih sama dengan
periode sebelum 1900.
Sekitar
tahun 1920, supervisi pendidikan telah menunjukkan kemajuan. Pada periode ini, supervisi
pendidikan telah mampu menunjukkan objek , sudut pandang, dan metode yang
digunakan. Peran supervise dalam bidang pendidikan sudah tidak diragukan lagi
dan dipertanyakan. Dengan demikian pada periode ini supervise telah memiliki
jati diri, yaitu menunjukkan identitas dirinya sebagai sebuah ilmu yang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Selanjutnya
Perkembangan supervisi pendidikan di periode 1930 sampai 1940
ditandai dengan adanya pengaruh psikologi humanistic. Pandangan humanistic bertolak
dari kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan akan harga diri. Disamping
itu manusia juga memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri. Paradigm inilah yang
menjadikan landasan mengapa supervisi harus lebih mengutamakan proses dari pada
hasil. Impilkasi paradigm ini adalah
pola supervisi yang m mendemokratislah yang dianggap memegang peranan penting
dalam psikologi humanistic.
DAFTAR PUSTAKA
Sudiyono, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA. Cetakan I
2015
Apakah kaitannya latar belakang supervisi sosiologis dengan lembaga paud ? Tlong jlskan ! Trmksh
BalasHapusApa manfaat latar belakang sosiologis menurut pendapat anda? Tolong jelaskan terimakasih
BalasHapusJelaskanlah masksud dari latar belakang kultural supervisi secara rinci ?terima kasih
BalasHapusJelaskanlah masksud dari latar belakang kultural supervisi secara rinci ?terima kasih
BalasHapusBagaimana jadinya jika supervisor tdk memiliki latar belakang supervisi pendidikan? Coba jelaskan
BalasHapusCoba berikan contoh dari kultural jelas kan
BalasHapuscoba jelaskan latar belakang supervisi pendidikan secara psikologis dan kaitkan dengan Paud?
BalasHapuscoba jelaskan latar belakang secara sosiologis, dan berikan cohtohnya di paud?
BalasHapusApakah semua latar belakang supervisi pendidikan yang anda paparkan tersebut saling terkait? Tlong jelaskan
BalasHapus