Rabu, 20 Maret 2019

LATAR BELAKANG DAN PERKMBANGAN SUPERVISI PENDIDIKAN

A.    LATAR BELAKANG SUPERVISI PENDIDIKAN
Latar belakang supervise pendidikan dibagi menjadi 4 yaitu secara kultural, filosofis, psikologis, dan social.
Dikutip dalam buku
Menurut swearingen supervise pendidikan dilaksanakan dilihat dari latar belakang sebagai berikut:
a.       Latar belakang secara kultural:
di zaman yang semakin maju manusia berkembang mengikuti zaman, hal ini menyebabkan perubahan dan pencampuran kebudayaan. Sekolah sebagai salah satu pusat kebudayaan, bertugas dan bertanggung jawab untuk menyeleksi antara yang negative dan yang positif. Budaya yang bermacam-macam dapat mempengaruhi lapangan gerak pendidikan dan pengajara. Sekolah bertugas mengkoordinir  semua usaha dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Oleh karena itu dibutuhkan supervise pendidikan yang bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha sekolah, dan memperkembangkan segala usaha untuk mencapai tujuan pendidikan.
b.      Latar belakang secara filosofis:
tiap zaman alam pikiran manusia mengalami peningkatan secara bertahap. Kecakapan untuk berfikir, merencanakan dan utuk berbuat merupakan usaha-usaha nyata dalam mengisi kebutuhan manusia. Manusia mempunyai potensi-potensi yang menghasilkan sesuatu pada setiap situasi, sehingga dengan demikian setiap pengalaman itu bersifat potensi  kreatif, mau tidak mau dibutuhkan daya koordinasi dan penyusunan rencana-rencana untuk mengatur interaksi manusia. Hal ini menjadi dasar filosofi bahwa dalam pendidikan perlu adanya supervise yang mengatur dan mengkoordinir pendidikan dan pengajaran.
c.       Latar belakang secara psikologis:
salah satu pandangan psikologi modern didalam pendidikan adalah pentingnya dorongan-dorongan emosional bagi anak waktu belajar seperti memberi motifasi. Hal ini juga dibutuhkan oleh orang dewasa. Usaha untuk mengembangkan dorongan-dorongan emosional bagi orang dewasa yang sedang belajar adalah salah satu fungsi supervise.
d.      Latar belakang secara social:
supervisi bersumber pada dassar kehidupan social, dimana masyarakat  demokratis, pemimpin juga demokratis. Seorang supervisor  biasanya adalah seorang yang memiliki status leader karena kedudukannya dan oleh karena itu ia memiliki tanggung jawab untuk merealisasikan potensi-potensi dalam memecahkan  setiap masalah ataupun problematika dengan cara mengikut sertakan pendapat orang lain.
e.       Latar bekalang secara sosiologis:
perkembangan seseorang tidak saja berdasarkan apa yang dibawa sejak lahir, tetapi bergantung juga kepada perlengkapan fisik yaitu perkembangan melalui kondisi-kondisi social. Oleh karena itu dalam proses kehidupan, maka sekolah dan masyarakat bersama-sama menaruh perhatian khusus terhadap perkembangan intelek, emosi, dan sebagainya dari anak-anak. Perlunya menyelidiki kondisi-kondisi masyarakat yang mempengaruhi, langsung atau tidak langsung perkembangan anak sehingga guru dapat membantu sekolah dan membina usah-usaha didiknya adalah salah satu fungsi kreatif dari supervise pendidikan.

B.     PERKEMBANGAN SUPERVISE PENDIDIKAN
Dikutip dari buku supervise pendidikan sudiyono halaman (13-22):
Pada abad ke 19 telah terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam bidang ilmu pengetahuan dan industry. Pola-pola pengawasan dalam bidang produksi telah merembes bahkan diadopsi atau diadaptasi dalam bidang pendidikan. Pola pengawasan yang dilakukan dalam sector dunia industry lebih terfokus pada hasil atau produk. Sementara, sector pendidikan mestinya memiliki kekhususan. Pendidikan merupakan dunia yang berbeda dengan dunia usaha. Dalam dunia pendidikan yang diproses adalah manusia. Produk pendidikan juga berupa manusia.
Oleh karena itu  pengawasan berkembang didunia usaha, maka pengawasan yang dilakukan oleh atasan atau pengawas terhadap karyawan atau bawahan bersifat administrative. Demikian juga dalam bidang pendidikan, pengawasan juga dilakukan oleh supervisor terhadap guru lebih bersifat teknis administrative.
Imlikasinya adalah di didalam melakukan supervisi cenderung mencari-cari kesalahan. Tenaga pengawas yang melaksanakan tugas kepengawasan belum dihasilkan oleh lembaga pendidikan yang memang ditugasi untuk tugas kepengawasan secara professional. Akibatnya, pelaksanaan tugas supervisi hanyalah pekerjaan sampingan. Dalam masa inin, pengawas menganggap dirinya selalu lebih unggul dari pada para guru-guru.
Kondisi ini buka sepenuhnya kesalahan pengawas, tetapu disebabkan cara berfikir tersebut saat itu menjadi cara berfikir yang digandrungi atau di jadikan acuan kebanyakan individu, bahkan disebut juga dengan “reifikasi”
Perkembangan supervise ditahun 1900 ditandai dengan adanya kegiatan supervise yang masih berorientasi pada hasil. Maka dari itu pelaksanaan supervisi masih sama dengan periode sebelum 1900.
Sekitar tahun 1920, supervisi pendidikan telah menunjukkan kemajuan. Pada periode ini, supervisi pendidikan telah mampu menunjukkan objek , sudut pandang, dan metode yang digunakan. Peran supervise dalam bidang pendidikan sudah tidak diragukan lagi dan dipertanyakan. Dengan demikian pada periode ini supervise telah memiliki jati diri, yaitu menunjukkan identitas dirinya sebagai sebuah ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Selanjutnya Perkembangan  supervisi  pendidikan di periode 1930 sampai 1940 ditandai dengan adanya pengaruh psikologi humanistic. Pandangan humanistic bertolak dari kenyataan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan akan harga diri. Disamping itu manusia juga memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri. Paradigm inilah yang menjadikan landasan mengapa supervisi harus lebih mengutamakan proses dari pada hasil. Impilkasi  paradigm ini adalah pola supervisi yang m mendemokratislah yang dianggap memegang peranan penting dalam psikologi humanistic.




DAFTAR PUSTAKA
Sudiyono, Supervisi Pendidikan, Yogyakarta: PENERBIT GAVA MEDIA. Cetakan I 2015                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

9 komentar:

  1. Apakah kaitannya latar belakang supervisi sosiologis dengan lembaga paud ? Tlong jlskan ! Trmksh

    BalasHapus
  2. Apa manfaat latar belakang sosiologis menurut pendapat anda? Tolong jelaskan terimakasih

    BalasHapus
  3. Jelaskanlah masksud dari latar belakang kultural supervisi secara rinci ?terima kasih

    BalasHapus
  4. Jelaskanlah masksud dari latar belakang kultural supervisi secara rinci ?terima kasih

    BalasHapus
  5. Bagaimana jadinya jika supervisor tdk memiliki latar belakang supervisi pendidikan? Coba jelaskan

    BalasHapus
  6. Coba berikan contoh dari kultural jelas kan

    BalasHapus
  7. coba jelaskan latar belakang supervisi pendidikan secara psikologis dan kaitkan dengan Paud?

    BalasHapus
  8. coba jelaskan latar belakang secara sosiologis, dan berikan cohtohnya di paud?

    BalasHapus
  9. Apakah semua latar belakang supervisi pendidikan yang anda paparkan tersebut saling terkait? Tlong jelaskan

    BalasHapus